Sabtu, 13 November 2010

Aku Memilih Islam

Apabila anda mencari buku tentang stem sel, apa yang akan anda lakukan?. Tentu saja anda akan ke toko buku atau ke perpustakaan. Anda akan mencari buku yang anda nilai bagus. Kemudian anda menemukan buku yang anda idamkan. Buku itu ditulis oleh peneliti kelas dunia dan sangat lengkap. Disitu anda dapat menemukan jawaban sebagian pertanyaan yang ada dibenak anda tentang stem sel. Namun masih banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab oleh buku itu.

Lalu anda membaca bahwa buku itu ditulis tahun 1990, yang merupakan buku edisi pertama. Apakah anda puas? Saya yakin tidak! Anda kemudian mencari informasi lebih lanjut tentang buku itu, sebab buku itu anda nilai sangat bagus dan anda yakin bahwa pasti ada edisi terbarunya. Anda kemudian mendapat informasi bahwa buku itu telah direvisi sebanyak lima kali, dan edisi terakhir ditulis pada tahun 2007. Seandainya ke lima edisi buku itu anda temukan, manakah yang anda pilih? Saya hampir pasti bahwa anda akan memilih edisi terakhir itu.

Mengapa? Ada beberapa alasan yang dapat saya kemukakan. Pertama, edisi terakhir biasanya memuat informasi terdahulu ditambah dengan informasi yang baru. Informasi baru ini baru dapat ditulis karena memang terjadi lonjakan perkembangan ilmu yang tajam dalam beberapa tahun terakhir. Informasi ini belum dimuat dalam edisi-edisi sebelumnya. Jadi, dalam edisi terakhir anda akan mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Kedua, kita menyadari bahwa ilmu itu berkembang terus. Sering kali terungkaplah fakta-fakta baru, sehingga teori atau penjelasan dalam edisi sebelumnya kurang akurat. Oleh sebab itu, buku edisi terbaru akan mengoreksi apa yang ditulis dalam edisi sebelumnya. Hasil koreksian itu tentu saja disusun berdasarkan fakta-fakta mutakhir tentang ilmu ternak unggas (misalnya). Ketiga, informasi-informasi baru yang ditulis dalam edisi terbaru mungkin saja memperkuat informasi yang telah ditulis dalam edisi sebelumnya, tetapi dengan penjelasan yang lebih akurat dan lebih bisa dipercaya. Penguatan ini pun dilengkapi dengan bukti-bukti yang nyata. Keempat, jadi seringkali apa yang ditulis dalam edisi sebelumnya sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan ipteks yang mutakhir. Bisa jadi, jika anda masih menggunakan buku edisi yang lama anda akan salah dalam penerapan ilmu sel punca atau stem sel. Sebab, informasi yang ada tidak akan mampu menjawab problema di masa kini. Sebagai contoh, jika anda membaca buku penelitian stem sel edisi lama, akan anda dapati bahwa penelitian stem sel masih menggunakan jaringan dewasa. Nah, jika anda membaca buku edisi lama tentu saja anda akan mendapatkan informasi yang sudah tidak relevan. Akibatnya, jika anda menggunakannya sebagai referensi penelitian, maka penelitian anda dianggap tidak valid.

Nah, analogi tersebut di atas dapat kita jadikan sebagai salah satu cara (saja) untuk memilih agama yang paling relevan dengan kehidupan masa kini. Allah sebagai pencipta alam semesta beserta isinya juga telah menurunkan petunjuk-Nya kepada manusia, yaitu berupa wahyu yang disampaikan oleh para Rasul. Para Rasul ini dalam menjalani tugasnya diberi pedoman. Allah telah menurunkan wahyu kepada Rasul untuk setiap umat dan untuk masa tertentu. Nah, kita mengetahui bahwa banyak buku atau kitab yang diyakini oleh masing-masing pemeluknya merupakan wahyu dari Tuhan Semesta Alam. Dalam Al Qur’an diinformasikan bahwa Allah telah menurunkan wahyu yang berupa kitab yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur’an, disamping ada beberapa mushaf yang diturunkan kepada para Rasul-Nya yang jumlahnya cukup banyak, hanya yang tercantum dalam Al Qur’an ada 25 Rasul. Kita mengetahui melalui sejarah bahwa Al Qur’an itu diturunkan sebagai kitab terakhir. Jika kitab-kitab sebelumnya hanya berlaku untuk umat tertentu dan untuk masa tertentu pula, maka Al Qur’an itu diperuntukan untuk seluruh umat manusia dan untuk masa yang panjang sampai hari kiamat. Oleh karena Al Qur’an itu merupakan pedoman hidup untuk sepanjang zaman, maka perlu dijaga keasliannya. Hal ini sudah ditegaskan oleh Allah bahwa Allah sendirilah yang akan menjaganya. Kita mengetahui bahwa kitab-kitab sebelum Al Qur’an telah mengalami perubahan disana-sini, sehingga menjadi kurang jelas bagian mana yang merupakan wahyu Allah dan yang mana yang merupakan gubahan manusia. Oleh sebab itu, Al Qur’an sebagai kitab yang terjaga dan terakhir itu merupakan kitab yang mengoreksi informasi-informasi yang ada dalam kitab-kitab sebelum AL Qur’an. Selain itu, Al Qur’an juga merupakan kitab penguat, yang membenarkan sebagian informasi yang tercantum dalam kitab-kitab sebelumnya. Jadi, sebenarnya Al Qur’an mengandung intisari ajaran Allah yang terkandung dalam kitab-kitab sebelumnya plus berbagai petunjuk yang belum pernah diturunkan. Petunjuk-petunjuk ini diturunkan sebagai pedoman manusia di era masa kini hingga hari kiamat. Jadi Al Qur’an merupakan kitab Allah yang paling sempurna, paling lengkap, paling terjaga keasliannya, paling cocok untuk masa kini, dan ….

Nah, jika Al Qur’an itu diibaratkan sebuah buku, maka Al Qur’an itu merupakan kitab (wahyu) yang terakhir diturunkan oleh Allah, kitab edisi terbaru. Edisi terbaru tentu saja akan memuat intisari ajaran terdahulu, mengoreksi informasi-informasi yang telah berubah dalam kitab terdahulu, memberikan tuntunan dan informasi sesuai dengan kondisi masa kini sampai hari kiamat, penguat ajaran terdahulu yang tidak diubah oleh tangan-tangan jahil dan hal-hal lain yang belum diturunkan pada masa-masa sebelumnya। Jadi, tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Al Qur’an merupakan kitab yang paling sempurna jika dibandingkan dengan kitab-kitab terdahulu. Kitab yang paling tepat untuk kita jadikan pedoman hidup, baik untuk hidup di dunia maupun di akherat nanti. Itulah salah satu alasan – disamping alasan-alasan lainnya – saya memilih Islam sebagai agamaku.


diadaptasi dari artikel karya Urip Santoso yang berjudul Alasan Saya Memilih Islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar